Mata Kuliah: Teknologi dan Pembenihan Ikan

Dosen    : Gusrina

SEX REVERSAL IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN METODE ORAL MENGGUNAKAN MADU

Laporan Praktikum

 

Oleh

Riris Yuli Valentine


UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI PERIKANAN

JOINT PROGRAM PPPPTK-SEAMOLEC

201

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Akuakultur merupakan suatu kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit) dengan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Pada spesies ikan tertentu ditemukan perbedaan laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, atau ukuran tubuh antara jantan dengan betina. Perbedaan karakter ini dapat menyebabkan potensi ekonomi antara ikan jantan dengan betina berbeda, sehingga dalam budidayanya yang ingin diproduksi biasanya adalah jenis kelamin yang dianggap mempunyai nilai lebih.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memproduksi monoseks secara komersial adalah dengan metode sex reversal atau pengarahan kelamin dengan penggunaan hormon methyl testosterone (MT). Namun, ada kekhawatiran tentang dampak negatif terhadap hormon yang mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, diperlukan adanya bahan lain dalam sex reversal.

Salah satu cara yang dianggap aman yaitu dengan penggunaan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan, antara lain adalah dengan madu. Madu dipilih karena mengandung kalium yang dapat merubah lemak menjadi prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

 Tujuan

Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami bagaimana proses melakukan sex reversal pada ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan metode oral memakai madu.

TINJAUAN PUSTAKA

 

Sex reversal adalah suatu teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Cara ini dilakukan pada waktu ikan baru menetas gonad ikan belum berdiferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina tanpa merubah genotipnya. Tujuan utama dari penerapan teknik sex reversal adalah menghasilkan populasi monoseks (tunggal kelamin). Dengan membudidayakan ikan monoseks akan didapatkan berbagai manfaat antara lain mendapatkan ikan dengan pertumbuhan yang cepat, mencegah pemijahan liar, mendapatkan penampilan yang baik, dan menunjang genetika ikan (teknik pemurnian ras ikan). Beberapa jenis ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias, telah berhasil diproduksi dengan teknologi sex reversal (Junior, 2002).

Pada dasarnya ada dua metode yang digunakan untuk mendapatkan atau memperoleh populasi monosex (sex reversal) yaitu melalui terapi hormon (cara langsung) atau rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung, hormone androgen dan estrogen mempengaruhi fenotip tetapi tidak mempengaruhi genotip.

Pada metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan, apapun jenis kromosom sexnya. Hormon biasanya diberikan pada awal kehidupan ikan. Pada metode ini memiliki kelebihan utama yaitu sederhana. Selain itu juga pada dosis yang optimal kematian ikan dapat dioptimalkan dan juga memiliki kelemahan yaitu keberhasilannya sangat beragam yang disebabkan oleh perbandingan kelamin alamiah antara jantan dan betina tidak selalu sama.

Mengingat permasalahan penggunaan hormon sintetik tersebut, diperlukan adanya bahan lain dalam sex reversal. Salah satu cara yang dianggap aman yaitu dengan penggunaan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan, antara lain adalah dengan madu lebah hutan (Djaelani, 2007; Utomo, 2008; Sukmara, 2007). Madu dipilih karena mengandung kalium yang dapat merubah lemak menjadi prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

Perlakuan madu dalam sex reversal dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan perendaman induk atau larva dalam larutan madu, dengan pemberian pakan yang telah dicampur madu, atau melalui pakan alami yang diperkaya dengan madu. Dengan demikian, penggunaan madu diharapkan mampu mengatasi masalah penggunaan hormon sintetik untuk kegiatan sex reversal dalam akuakultur, yang berdasarkan pada keamanan pangan dengan mengedepankan konsep back to nature.

Madu merupakan larutan karbohidrat yang dihasilkan oleh lebah madu (Apis mellifera) dari nektar bunga dan tepung sari. Komponen utama madu adalah dektrosa dan levulosa. Madu mengandung 70-80% gula invert yang terlarut dalam air, sukrosa, maltose, dekstrin, vitamin C, B1, B2 dan B6, asam pantoneat, asam folat, mineral (Na, K, Ca, Mn, Fe, Cu, P, dan S), enzim hormon, zat bakterisida, fungisida, zat aromatic, lilin, protein, minyak atsiri, asam formiat, dan serbuk sari bunga.

Madu juga berfungsi sebagai antioksidan, diantaranya adalah chrysin, pinobaksin, vitamin C, katalase, dan pinocebrin. Zat chrysin merupakan salah satu jenis flavonoid yang diakui sebagai salah satu penghambat enzim aromatase atau lebih dikenal sebagai aromatase inhibitor (Dean, 2004). Madu mengandung kalium yang dapat merubah lemak menjadi prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

Aromatase merupakan enzim yang mangkatalis konversi testosteron (androgen) menjadi estradiol (estrogen). Sehingga dalam proses stereoidogenesis dalam sel, pembentukan estradiol dari konversi testosterone akibat adanya enzim aromatase akan terhambat karena adanya chrysin yang berperan sebagai aromatase inhibitor dan pada akhirnya proses stereoidogenesis berakhir pada pembentukan testosterone yang akan merangsang pertumbuhan organ kelamin jantan dan menimbulkan sifat-sifat kelamin sekunder jantan (Junior, 2002).

METODOLOGI

 Waktu dan Tempat pelaksanaan

Kegiatan praktikum dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 28 Mei 2011 di Laboratorium dan Hatchery Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.

Alat dan bahan

Kegiatan praktikum sex reversal menggunakan alat dan bahan seperti, akuarium 80x80x40 cm, timbangan analitik, petridish, skopnet, ember, ATK, gelas beaker, benih nila 100 ekor ukuran 9,0-13 mm, pakan crumble, cairan madu, methalin blue, selang siphon, aerasi.

Langkah kerja

  • Menyiapkan wadah pemeliharaan terlebih dahulu akuarium ukuran 80x80x40 cm kemudian mencucinya hingga bersih.
  • Setelah selesai melakukan pencucian kemudian akuarium dikeringkan terlebih dahulu, lalu mengisi air ke dalam akuarium setinggi 20 cm. Hal ini dikarenakan pengaruh pergerakkan proses metabolism pada benih yang masih berukuran kecil dalam melakukan gerakan berenang ke permukaan dan mencari makan supaya larva tidak terlalu menghabiskan energi dalam berenang karena airnya terlalu tinggi.
  • Mengambil benih ikan nila yang baru berumur sekitar 7-10 hari sebanyak 100 ekor dan menimbang bobotnya dengan menggunakan timbangan analitik.
  • Setelah itu memasukkan benih nila 100 ekor ke dalam akuarium yang telah siap untuk digunakan.
  • Menimbang pakan yang akan digunakan sesuai dengan dosis yang telah ditentukan berdasarkan biomassa ikan untuk 10 hari proses pemeliharaan. Dosis pemberian pakan yang digunakan yaitu 30% adlibitum. Dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali/hari.
  • Menimbang madu sebanyak 60ml/l pakan yang akan digunakan untuk metode sex reversal sistem oral berdasarkan bobot biomassa ikan.
  • Mencampurkan pakan ke dalam madu yang telah diencerkan dengan alkohol 70% dalam wadah petridis.
  • Mengaduk pakan dan madu tersebut sampai merata setelah itu baru dikeringkan dengan cara mengangin-anginkan selama beberapa saat kemudian pakan dibungkus dengan kertas menjadi 40 bungkus (perbungkus untuk 1 kali makan).
  • Memberi pakan setiap hari pada benih nila dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari (setiap 1 bungkus untuk 1 kali makan).
  • Melakukan pergantian air dan penyiponan bila media pemeliharaan kotor.
    Pemeliharaan dilakukan selama 10 hari dan melakukan pengamatan selanjutnya terhadap Survival Rate benih nila yang dihasilkan.

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

    Berdasarkan kegiatan praktikum sex reversal selama 10 hari pemeliharan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut;

 

No.

Hari/waktu pemeliharaan

Dosis pakan (gr)

Mortalitas

Natalitas

1

0

0.27

100

2

1

0.27

5

95

3

2

0.27

3

92

4

3

0.27

8

84

5

4

0.27

84

6

5

0.27

11

73

7

6

0.27

73

8

7

0.27

7

66

9

8

0.27

4

62

10

9

0.27

3

59

11

10

0.27

59

  • Data pertumbuhan bobot rata-rata larva ikan hasil sex reversal

    Bobot awal rata-rata (gr) = 0,9 gr

    Bobot akhir rata-rata (gr) = 1,25 gr

  • Survival Rate (SR) sex reversal selama 10 hari

    SR= (Nt:No) x 100%

    Nt : Jumlah benih akhir

    No : Jumlah benih awal

    SR = (59:100) x 100%

    SR = 59 %

  • Biomassa : 0,9 gr/100 ekor
  • Feeding Rate : 30%

    0,9 X = 0,27 gr/hari

  • Feeding Frekuensi : = 0,07 gr/satu kali

 Pembahasan

    Sex reversal merupakan teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin ke arah yang berlawanan. Ikan pada saat baru menetas belum berdeferensiasi kelamin atau belum definitif gonad jantan dan betina belum terbentuk sehingga mudah di lakukan sex reversal. Ikan nila yang dipelihara dengan perlakuan oral madu ini adalah ikan nila yang masih berumur 9 hari, sehingga menyulitkan dalam pelaksanaan penimbangan bobot tubuh. Oleh sebab itu, dilakukan penimbangan dengan menggunakan timbangan analitik.

    Kegiatan praktikum yang telah dilakukan menemukan adanya tingkat derajat kelangsungan hidup (SR) 59 % dan tingkat pertumbuhan kurang dari 50% dari jumlah pakan yang diberikan. Selama proses pemeliharaan diperoleh bobot akhir rata-rata 1,25 gr. Pemberian pakan terhadap larva dilakukan selama 4 kali per hari dengan frekuensi pemberian 0,27 gr/hari. Kurangnya daya dukung praktikum menjadi kendala yang dihadapi sehingga dalam melakukan praktikum, praktikan tidak mampu untuk menentukan faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kerja madu yang diberikan.

    Ikan yang telah dilakukan perangsangan madu belum dapat diketahui dengan kasat mata. Sehingga ikan yang telah dilakukan proses perangsangan tersebut belum diketahui presentase terjadinya jantan dan betina. Oleh sebab itu, dibutuhkan waktu yang cukup lama lagi untuk pemeliharaan sampai benih menjadi besar dan definif gonad jantan dan betina supaya dapat diketahui presentasenya.

 KESIMPULAN

 

    Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hasil Survival Rate yang diperoleh selama 10 hari pemeliharaan adalah 59 %. Dengan bobot akhir rata-rata diperoleh 1,25 gr.
  2. Karena keterbatasan waktu kegiatan praktikum maka belum dapat dilaksanakan hingga tahap pengecekan kelamin, hanya sampai pengamatan terhadap tingkat kelangsungan hidup.
  3. Kegiatan ini dilakukan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, karena kita tidak mengetahui apakah perlakuan madu terhadap ikan tersebut mengalami keberhasilan atau tidak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dean, W. 2004. Chrysin: Is It An Effective Aromatase Inhibitor. Vitamin Research News. Vol 18, No. 4. http://www.vrp.com [9 Mei 2011].

Djaelani, F. 2007. Pengaruh Dosis Madu Terhadap Pengarahan Kelamin Jantan Pada Ikan Gapi (Poecilia reticulata Peters) dengan Metode Perendaman Larva). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMA. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Hanif, S., T. Yuniati, dan D. Junaedi. 2006. Teknik Produksi Induk Jantan YY Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Sukabumi: Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar.

Junior, M. Z. 2002. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan Atau Betina. Jakarta: Penebar Swadaya.


 

About ririssinaga

aku anak pertama dari 3 bersaudara perempuan sendiri loh...^_^ aku dari keluarga yg sederhana .. aku sedang mendalami jurusan bidang budidaya perikanan... aku seseorang yang rame, ceriwizzz, bawel, friendly...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s