Mata Kuliah: Teknologi dan Pembenihan Ikan

Dosen    : Gusrina

 

 

PEMIJAHAN ALAMI IKAN LELE (Clarias Sp.)

 

Laporan Praktikum

 

 

Oleh

Riris Yuli Valentine

 

 

 


 

 

 

 

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI PERIKANAN

JOINT PROGRAM PPPPTK-SEAMOLEC

 

 

2011

  1. PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

        Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara luas oleh masyarakat terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi. Teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

        Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah.

    Pemijahan adalah suatu proses perkawinan antara ikan jantan dan betina. Dalam budidaya ikan teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu:

  • Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon).
  • Pemijahan ikan secara semi buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam.
  • Pemijahan ikan secara buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping atau pengurutan.

 

  1. Tujuan

    Agar mahasiswa dapat mengetahui, memahami, dan melakukan bagaimana teknik pemijahan alami dan semi buatan pada ikan lele cara pemijahannya. Mahasiswa juga dapat membedakan induk yang matang gonad dengan ciri-ciri yang telah ditentukan.

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

    Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedangkan di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan (Arifin, 1991).


Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986) adalah:

Kingdom    : Animalia

Filum         : Chordata

Subfilum    : Vertebrata

Kelas         : Pisces

Subkelas     : Teleostei

Ordo         : Ostariophysi

Subordo     : Siluroidea

Famili         : Clariidae

Genus         : Clarias

 

    Pemijahan ikan lele dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan (Susanto, 1987).

  1. Pemijahan Alami
  • Siapkan bak berukuran panjang 2m, lebr 1m, dan tinggi 0,4 m
  • Keringkan selama 2-4 hari
  • Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan
  • Pasang hapa halus seusai ukuran bak
  • Masukkan ijuk secukupnya
  • Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari
  • Masukkan pula 1 ekor induk jantan
  • Biarkan memijah
  • Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu. Hasil pemijahan alami lele  biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak.

     

  1. Pemijahan Semi Alami
  • Perbandingan induk jantan dan betina 1:1 baik jumlah maupun berat
  • Penyuntikkan langkahnya sama dengan pemijahan buatan
  • Pemijahan langkahnya sama dengan pemijahan alami

     

  1. Pemijahan Buatan

        Pemijahan buatan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini adalah penyuntikkan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur.

  • Penyuntikkan dengan ovaprim

Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam.

  • Penyuntikkan dengan hypofisa

    Penyuntikkan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypofisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya siapkan induk betina yang sudah matang gonad ; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat dibawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypofisa; masukkan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukkan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypofisa itu; suntikkan ke dalam tubuh induk betina; masukkan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selama 10 jam.

  • Pengambilan Sperma

Setengah jam sebelum pengeluaran telur, sperma harus disiapkan. Caranya dengan cara berikut:

  • Tangkap induk jantan yang sudah matang kelamin
  • Potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang
  • Keluarkan darahnya
  • Gunting kulit perutnya mulai dari anus hingga belakang insang
  • Buang organ lain di dalam perut
  • Ambil kantung sperma
  • Bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering
  • Hancurkan kantung sperma dangan cara menggunting bagian yang paling banyak
  • Peras spermanya agar keluar dan masukkan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides
  • Aduk hingga homogen.

 

Ciri-ciri induk lele jantan:

  • Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
  • Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
  • Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
  • Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
  • Perutnya lebih langsing dan kenyal bila disbanding induk ikan lele betina.
  • Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
  • Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.

     

Ciri-ciri induk lele betina

  • Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
  • Warna kulit dada agak terang.
  • Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
  • Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
  • Perutnya lebih gembung dan lunak.
  • Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

 

Syarat induk lele yang baik :

  • Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
  • Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam.
  • Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.
  • Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.
  • Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.
  • Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.

 

    Menurut Ridwan Affandi (20001:92) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ovulasi dalam pemijahan terdiri dari 2 faktor, yaitu :

  1. Faktor dalam, yaitu antara lain Gonadotropin-releasing hormone, Gonadotropin Releasing Inhibiting Faktors (GRIF), Putuitary Gonadotropin (GtH) dan penghubung local ovari dari kerja GtH seperti steroids dan prostaglandin.
  2. Faktor luar, yaitu fotoperiod, temperature, substrat dan factor sosoial sepereti visual dan kimiawi.

    Fertilisasi adalah proses bergabungnya inti sperma dengan initi sel telur dalam sito plasma sehingga membentuk zigot. Pada dasarnya fertilisasi adalah merupakan penyatuan atau fusi sel gamet jantan dan sel gamet betina untuk membentuk satu sel. (Ridwan Affandi, 2001:97)

Proses ganda dalam fertilisasi adalah :

  • Aspek embriologi yaitu pengatifkan ovul oleh sperma
  • Aspek genetik yaitu pemasukan factor-faktor heriditas penjantan kedalam ovum.Aspek genetik inilah yang manfaatkan dalam pembuahan buatan atau inseminasi buatan yakni menyatukan factor-faktor unggul yang dimiliki spermatozoa dan hewan betina melalui sel telurnya.(Ridwan Affandi,2001:97)

    Pada pembuahan terjadi pencampuran inti sel dan inti sperma. Kedua inti ini masing-masing mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu set (haploid). Hanya satu sperma yang dibutuhkan untuk membuahi satu sel telur (monospermi). Meskipun berjuta-juta spermatozoa dikeluarkan pada saat pemijahan dan menempel pada sel telur, tetapi hanya satu yang dapat melewati mikrofil, satu-satunya lubang masuk spermatozoa pada sel telur.

Besar tingkat pembuahan dapat ditentukan dengan menggunakan derajat pembuahan (Fertilation Rate). Derajat Pembuahan (Fertilation Rate) adalah persentase perbandingan antara jumlah telur yang tebuahai oleh sperma dengan total telur yang dikeluarkan oleh induk betina (jumlah telur terbuahi ditambah jumlah telur tidak terbuahi).

    Menurut Ridwan Affandi (2001:122) Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) menuju fase kehidupan. Penetasan merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya. Penetasan dapat terjadi karena dua hal yaitu :

  1. Kerja Mekanik, embrio semakin membesar dan memanjang, sering mengubah posisinya, kekurangan ruang dalam cangkang, karena sering terjadi pergerakan maka bagian cangkang yang tipis atau lembek akan ppecah sehingga embrio akan keluar.
  2. Kerja Enzimatik, akibat adanya enzim choiroinase yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal di daerah pharynk embrio. Choirionase bersifat mereduksi lapisan choirion sehingga choirion pecah dan embrio keluar.

 

III. METODOLOGI

 

 

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

    Kegiatan praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 21 April 2011 di Hatchery Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA dan dilakukan selama 30 hari.

 

3.2 Alat dan Bahan

    Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum pemijahan alami yaitu kolam bak semen ukuran 2x1x1 m2 3 buah, bak fiber, selang siphon, skopnet, induk lele 1:1 jantan dan betina, ember, pakan crumble, kuning telur, cacing, crumble, kakaban 3 buah sebagai substrat menempel telur, thermometer, ATK.

 

3.3 Langkah Kerja

    Kegiatan praktikum pemijahan alami ikan lele (Clarias Sp.) dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut;

  1. Proses pemijahan
  • Melakukan penyeleksian terhadap induk lele yang akan digunakan sebagai pemijahan alami, dan harus induk yang benar-benar matang gonad.
  • Menimbang terlebih dahulu induk jantan dan induk betina dengan menggunakan timbangan.
  • Mencuci bak hingga bersih untuk tempat ikan memijah
  • Mencuci 3 bak semen sebagai tempat penetasan telur sekaligus pemeliharaan larva yang akan dilakukan selama 30 hari.
  • Mencuci kakaban sebanyak 3 buah sebagai tempat substrat telur lele. Kemudian menjemur kakaban terlebih dahulu.
  • Melakukan pengisian air ke dalam bak setinggi 30 cm.
  • Memasukkan 3 kakaban ke dalam bak pemijahan dengan menyusunnya.
  • Setelah melakukan seleksi induk yang benar-benar matang gonad kemudian memasukkan induk jantan dan betina ke dalam bak pemijahan lalu memberikan penutup di atas bak yaitu jarring atau happa supaya proses pemijahan tidak terganggu oleh praktikan yang lalu lalang disekitar lokasi.
  1. Pemanenan telur dan Penetasan telur
  • Pemanenan telur dilakukan pada waktu pagi hari dengan memindahkan kakaban satu persatu ke dalam bak penetasan sekaligus bak pemeliharaan larva.
  • Memasang aerasi di masing-masing bak untuk menambah O2 di air. Sekaligus memasang hitter sebagai penstabil suhu supaya tidak terjadi fluktuasi.
  • Memberikan Methaline Blue ke dalam bak penetasan telur supaya tidak terkena serangan jamur.
  1. Pemeliharaan larva dan pakan
  • Memberi pakan larva dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari ketika larva tidak memiliki kuning telur sebagai cadangan makanannya. Pemberian kuning telur 3-4 hari setelah larva menetas. Hal ini berhubungan dengan sistem pencernaan yang belum sempurna.
  • Memberi pakan kuning telur dengan cara menghancurkan kuningnya dengan memberikan sedikit air supaya lebih hancur sehingga dapat dicerna oleh larva.
  • Mengganti pakan kuning telur dengan cacing tubifex dan pakan crumble setelah larva mulai memerlukannya. Karena cacingnya tidak tersedia dengan banyak maka diberikan pakan crumble saja.
  • Melakukan penyiponan terhadap bak selama proses pemeliharaan apabila kondisi bak sudah mulai terlihat kotor akibat pemberian pakan dari kuning telur.
  1. Pemanenan larva

    Pemanenan larva dilakukan secara manual dengan menghitung larva yang ada pada bak pemeliharaan selama 30 hari.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil

Berdasarkan kegiatan praktikum pemijahan alami yang telah dilakukan selama 30 hari maka dapat diperoleh hasilnya sebagai berikut;

 

JUMLAH TELUR YANG TERBUAHI DAN TIDAK TERBUAHI PER KAKABAN DENGAN LUAS KOTAK SAMPEL 4 cm2

Kakaban I

No

Telur yang terbuahi (butir)

Telur yang tidak terbuahi (butir)

Jumlah total telur

(butir)

1

11

5

16

2

8

4

12

3

10

0

10

4

15

5

20

5

25

0

25

6

10

3

13

7

5

10

15

8

14

2

12

9

15

3

12

10

15

1

14

12

3

15

 

Kakaban II

No

Telur yang terbuahi (butir)

Telur yang tidak terbuahi (butir)

Jumlah total telur

(butir)

1

12

1

13

2

17

3

20

3

9

0

9

4

21

3

24

5

18

3

21

6

19

0

19

7

12

1

13

8

20

3

23

9

15

1

16

10

19

0

19

16

2

18

       

 

Kakaban III

No

Telur yang terbuahi (butir)

Telur yang tidak terbuahi (butir)

Jumlah total telur

(butir)

1

25

2

27

2

18

0

18

3

15

0

15

4

21

2

19

5

13

0

13

6

38

0

38

7

6

1

7

8

4

0

4

9

8

2

10

10

21

1

20

17

1

18

 

Total Jumlah telur yang ada di kakaban I, II dan III

Kakaban

Jumlah telur yang terbuahi (butir)

Jumlah telur yang tidak terbuahi (butir)

Jumlah total telur (butir)

I

12

3

15

II

16

2

18

III

17

1

18

45

6

47

 

Rincian perhitungan jumlah total telur yang ada di kakaban I, II dan III sebagai berikut :

Jumlah telur yang terbuahi (butir) = K I + K II + K III

             = 12 + 16 + 17

             = 45 butir

 

Jumlah telur yang tidak terbuahi (butir) = K I + K II + K III

             =3 + 2 + 1

             =6 butir

 

Jumlah total telur (butir) = K I + K II + K III

             =15+ 18+ 18

             = 47 butir

JUMLAH TOTAL TELUR SELURUH LUASAN KAKABAN

 

Diketahui : Luas kakaban 2400 cm2

     Luas kotak sampel 4 cm2

 

Fekunditas (butir) merupakan
jumlah telur ikan yang dikeluarkan per satuan bobot badan= 30.600 butir

Jumlah telur yang terbuahi =
X Rata2 telur terbuahi

             = x 45 butir

              = 27.000 butir

Jumlah telur yang tidak terbuahi =
X Rata2 telur tidak terbuahi

             = x 6 butir

              = 3.600 butir

 

Fertilisasi rate (butir)

Jumlah telur seluruhnya =
X total telur

             = x 47 butir

              = 28.200 butir

 

Persentase Jumlah telur yang terbuahi (%)

% jumlah telur yang terbuahi = x 100%

                 = x 100%

                 = 95 %

JUMLAH LARVA (EKOR)

Jumlah larva (ekor)/ liter

Diketahui; Jumlah larva(ekor)/250 ml

 

Contoh ke-

Bak 1 (ekor)/250 ml

Bak 2 (ekor)/250ml

Bak 3 (ekor)/250ml

1

5

12

2

2

2

6

4

3

4

11

1

4

16

13

2

5

11

8

1

6

1

5

3

7

8

2

7

8

3

5

4

9

1

7

2

10

2

3

8

Rata-rata jumlah larva(ekor)/250 ml

5

7

4

Rata-rata jumlah larva(ekor)/liter

20

28

16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Volume Bak (Liter)

Parameter yang diukur

Bak 1

Bak 2

Bak 3

tinggi air (cm)

30

30

30

panjang (cm)

145

145

145

lebar (cm)

85

85

85

volume bak (cm 3)

369.750

369.750

369.750

Volume bak (Liter atau dm3)

370

370

370

 

Jumlah Keseluruhan Larva Di Bak Pemeliharaan

Jumlah larva(ekor)/bak

Bak 1 (ekor)

Bak 2 (ekor)

Bak 3 (ekor)

total jumlah larva bak1+bak2+bak3 (ekor)

Rata-rata jumlah larva(ekor)/liter

20

28

16

22.200

Volume bak (Liter atau dm3)

370

370

370

7.400

10.360

5.920

 

Derajat penetasan (HR)

Persentase jumlah telur yang menetas = x 100%

                     = x 100 %

                    HR = 78 %

 

SURVIVAL RATE (SR)

SR= () x 100%

Nt : Jumlah benih akhir

No : Jumlah benih awal

SR = () x 100%

SR = 61 %

 

MORTALITAS


=
=
8.577 ekor

 

  1. Pembahasan

Berdasarkan kegiatan praktikum pemijahan alami yang telah dilakukan dengan menggunakan induk jantan dan betina yang telah matang gonad. Bobot induk jantan yaitu 400 gr dan bobot induk betina 500 gr. Proses pemijahan dilakukan pada hari Kamis, 21 April 2011 pukul 14.53. Induk memijah setelah 5 hari yaitu pada tanggal 26 April 2011, hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi pemijahan dengan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan kelompok lain karena waktu saat awal proses memijahkan terlalu petang dan kemungkinan juga induk jantan yang digunakan bobotnya terlalu kecil yaitu 400 gr. Padahal menurut SNI : 01- 6484.1 – 2000
Induk

ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock), bobot induk jantan yang matang gonad 500-750 gr/ekor. Sedangkan untuk induk betina yang digunakan telah sesuai kriteria dan sependapat pula dengan SNI yaitu 400-500 gr/ekor.

Proses pemeliharaan larva dilakukan dengan sebaik-baiknya, pemberian pakan kuning telur belum dilakukan pada telur yang baru menetas karena larva tersebut masih memiliki kandungan kuning telur yang tersimpan di dalam tubuhnya. Oleh sebab itu, selama proses pemeliharaan berlangsung diberikan pakan kuning telur pada larva yang berumur sekitar 3-4 hari barulah dapat diberikan kuning telur karena hal ini berpengaruh pada proses pencernaan larva yang belum definitive atau belum sempurna.

Setelah sekitar 2 minggu dapat dilakukan pergantian pakan dengan menggunakan pakan cacing atau pakan crumble, tetapi pemberiannya tidak bias langsung berganti. Harus melakukan penyesuaian terlebih dahulu dengan cara mencampurkan kuning telur sebagian dengan cacing atau pakan crumble, supaya larva tidak terkejut dan berpengaruh terhadap proses pencernaannya. Melakukan penyiponan terhadap bak apabila kondisi air sudah mulai kotor akibat sisa pakan yang mengendap di dasar air, dan melakukan pengisian air sesuai air yang dikeluarkan selama proses penyiponan berlangsung.

Fekunditas
merupakan
jumlah telur ikan yang dikeluarkan per satuan bobot badan yaitu 30.600 butir. Fertilisasi telur yang dihasilkan yaitu 28.200 butir dengan persentase 95%. Untuk hatching rate nya 78%, Survival rate 61 % dan mortalitas 8.577 ekor. Hasilnya dapat diperoleh berdasarkan proses perhitungan yang dapat dilihat pada hal.8-12.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam proses pemijahan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat meliputi hormon dan volume kuning telur, yang mempengaruhi hormon adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan tyroid yang berperan dalam proses metamorfosa. Sedangkan kuning telur berkaitan dengan perkembangan embrio. Sedangkan faktor eksternal dapat meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan intensitas cahaya. Proses penetasan umumnya berlangsung cepat pada suhu yang lebih tinggi, karena pada suhu yang tinggi metabolisme berjalan lebih cepat sehingga perkembangan embrio juga akan lebih cepat yang menyebabkan pergerakan embrio dalam cangkang lebih intensif.

Sebaliknya, apabila suhu yang lebih tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat proses penetasan, bahkan suhu yang terlalu ekstrim atau berubah secara mendadak dapat menyebabkan kematian embrio dan kegagalan penetasan. Selain suhu, oksigen yang terlarut dalam perairan juga akan mempengaruhi penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi elemen meristik embrio dan kebutuhan oksigen optimum untuk setiap ikan berbeda tergantung pada jenisnya. Faktor lain yaitu intensitas cahaya yang kuat dapat menyebabkan laju penetasan yang cepat.

Berdasarkan kegiatan paktikum pemijahan ikan lele yang telah dilaksanakan teruji bahwa faktor-faktor yang telah disebutkan diatas dapat mempengaruhi proses pemijahan. Berdasarkan hasil praktikum dari keseluruhan telur yang ada, tidak semua telur yang terbuahi dan tidak semua telur juga yang dapat menetas.

Beberapa ciri-ciri telur yang terbuahi dapat dilihat dengan warna telur yang transparan atau bening dan adanya zigot ditengah telur dan ukurannya relatif besar, sedangkan telur yang tidak terbuahi ditandai dengan warna telur yang putih susu dan ukurannya relatif kecil. Hal ini disebabkan karena adanya telur yang tdak matang yang ikut keluar pada saat proses pemijahan.
Oleh sebab itu, faktor-faktor yang mempengaruhi proses penetasan sangat penting diperhatikan karena tinggi rendahnya derajat penetasan mempengaruhi keberhasilan dalam usaha pembenihan.

 

    V. KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan praktikum pemijahan yang telah dilakukan selama kurang lebih 30 hari, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut;

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemijahan adalah; faktor dalam (hormon dan volume kuning telur) dan faktor luar (suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan intensitas cahaya.
  • Fekunditas
    merupakan
    jumlah telur ikan yang dikeluarkan per satuan bobot badan yaitu 30.600 butir. Fertilisasi telur yang dihasilkan yaitu 28.200 butir dengan persentase 95%. Untuk hatching rate nya 78%, Survival rate 61 % dan mortalitas 8.577 ekor.
  • Faktor keberhasilan juga sangat mendukung yaitu ketelitian dalam menentukan dosis ovaprim dan dalam kegiatan penyuntikan

     

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.

 

Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. Simplex. Jakarta.

 

Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit Swadaya. Jakarta.

 

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMA. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

 

Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo. Bhratara. Jakarta.

 

Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.

 

Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

SNI : 01- 6484.1 – 2000 Induk
ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

 

Dokumentasi selama kegiatan praktikum pemijahan


Proses seleksi induk lele jantan dan betina

 

 



Gambar. penimbangan induk, seleksi induk, persiapan bak, pemeliharaan, dan pemanenan.


 

About ririssinaga

aku anak pertama dari 3 bersaudara perempuan sendiri loh...^_^ aku dari keluarga yg sederhana .. aku sedang mendalami jurusan bidang budidaya perikanan... aku seseorang yang rame, ceriwizzz, bawel, friendly...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s