Mata Kuliah: Manajemen Kualitas Air

Dosen    : Ir. Dardiani

TUGAS Makalah Resirkulasi

 

 

 

PENGGUNAAN SISTEM RESIRKULASI DALAM PENDEDERAN BENIH IKAN GURAMI

(Osphronemus gouramy Lac.)

 

Oleh

 

KELOMPOK IV

  1. Riris Yuli Valentine
  2. Ririn Rohmah
  3. Bonifasius E. Udiata
  4. Corneles Atdjas
  5. Eka Wahyudi
  6. Ismit Hi. Marwan Din

     

     

     


 

 

 

 

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI PERIKANAN

JOINT PROGRAM PPPPTK-SEAMOLEC

2011

PENDAHULUAN

 

Akuakultur merupakan salah satu aktivitas penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dari sektor perikanan. Dalam satu dekade terakhir, produksi perikanan dari sektor akuakultur mengalami peningkatan sedangkan produksi perikanan hasil penangkapan (captured fishery) cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan (Anonim, 2004).

Secara umum, produksi akuakultur Indonesia saat ini cukup tinggi yaitu sekitar 1,7 juta ton pada tahun 2005. Salah satu komoditas yang menjadi prioritas dalam pembangunan subsektor perikanan budidaya ini adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) (http://www.dkp.go.id/statistik.htm).

Produktivitas gurami lebih rendah dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya seperti ikan mas dan nila. Hal ini terjadi karena teknik pemeliharaan yang selama ini dilakukan oleh petani adalah cara konvensional. Selain itu, kendala lain yang sering dihadapi dalam industrialisasi komoditi ini adalah tingginya tingkat kematian pada tahap larva dan benih yaitu hingga 50-70% serta laju pertumbuhannya yang lambat (Insan, 2000 dalam Khairuman dan Amri, 2005).

Teknik pemeliharaan secara intensif untuk memacu pertumbuhan gurami terutama perbaikan manajemen kualitas air, sudah harus diterapkan mulai dari tahap pemijahan, pemeliharaan larva, pendederan dan pembesaran (Anonim, 1996). Pemeliharaan dalam tahap pendederan merupakan fase yang penting untuk menghasilkan benih unggul untuk dibesarkan. Jika benih berukuran 100 g/ekor hasil pendederan dipindahkan ke kolam pembesaran, maka benih akan memiliki laju pertumbuhan yang cepat (Jangkaru, 1998).

Kualitas air merupakan faktor penting yang berpengaruh dalam budidaya perikanan karena kualitas air yang tidak baik dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan berdampak pada turunnya produksi bahkan kerugian bagi petani ikan (Boyd, 1990).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan di atas adalah dengan mengaplikasikan sistem resirkulasi akuakultur (Recirculation Aquaculture System) dengan teknologi biofiltrasi dalam budidaya gurami. Penggunaan sistem ini, secara umum memiliki beberapa kelebihan yaitu: penggunaan air per satuan waktu relatif rendah, fleksibilitas lokasi budidaya,

Manajemen kualitas air sangat mutlak diperlukan dalam budidaya gurami karena ikan ini tergolong peka terhadap perubahan kualitas air. Saat ini, kualitas air untuk budidaya semakin memburuk karena tingginya tingkat pencemaran. Penggunaan sistem resirkulasi dengan dua tipe biofilter berbeda (submerged bed dan trickling filter) dalam budidaya gurami terutama pada tahap pendederan, merupakan suatu alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan. Pertanyaan yang diajukan adalah sampai sejauh mana sistem resirkulasi dengan dua tipe biofilter berbeda (submerged bed dan trickling filter) dapat meningkatkan produktivitas benih gurami dan kemampuannya dalam menjaga kualitas air.

Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) adalah spesies asli kawasan Asia Tenggara (Khairuman dan Amri, 2005). Daerah penyebaran gurami antara lain Thailand, Sri Lanka, Malaysia, Australia, Cina, India, dan Indonesia. Khusus di Indonesia, gurami banyak terdapat di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan ini kemudian menjadi salah satu jenis ikan yang penting dalam budidaya ikan air tawar di Asia (Roberts, 1989).

Komponen dasar sistem resirkulasi akuakultur terdiri dari :

  1. Bak pemeliharaan ikan / tangki kultur (growing tank) yaitu tempat pemeliharaan ikan, dapat dibuat dari plastik, logam, kayu, kaca, karet atau bahan lain yang dapat menahan air, tidak bersifat korosif, dan tidak beracun bagi ikan.
  2. Penyaring partikulat (sump particulate) yang bertujuan untuk menyaring materi padat terlarut agar tidak menyumbat biofilter atau mengkonsumsi suplai oksigen.
  3. Biofilter merupakan komponen utama dari sistem resirkulasi. Biofilter merupakan tempat berlangsungnya proses biofiltrasi beberapa senyawa toksik seperti NH4+ dan NO2. Pada dasarnya, biofilter adalah tempat bakteri nitrifikasi tumbuh dan berkembang.
  4. Penyuplai oksigen (aerator) yang berfungsi untuk mempertahankan kadar oksigen terlarut dalam air agar tetap tinggi.
  5. Pompa resirkulasi (water recirculation pump) yang berfungsi untuk mengarahkan aliran air.

Penggunaan sistem resirkulasi pada akuakultur, dapat memberikan keuntungan yaitu memelihara lingkungan kultur yang baik pada saat pemberian pakan untuk pertumbuhan ikan secara optimal. Kelebihan sistem resirkulasi dalam mengendalikan, memelihara dan mempertahankan kualitas air menandakan bahwa sistem resirkulasi memiliki hubungan yang erat dengan proses perbaikan kualitas air dalam pengolahan air limbah, terutama dari aspek biologisnya (Akbar, 2003).

Biofilter merupakan filter yang terdiri dari media tempat bakteri dapat hidup (Helfrich dan Libey, 2003). Ada empat tipe biofilter dasar yaitu submerged bed, trickling filter, fluidized bed, dan rotating biocontactor (Tetzlaff dan Heidinger, 1990).

Biofilter submerged bed memiliki substrat/media biofilm yang terdedah secara konstan dalam fasa air. Medium biofilter yang bisa digunakan sangat bervariasi seperti batu kerikil, batu kapur, plastik, dan ‘gravel‘ dengan bermacam-macam berat dan ukuran (Akbar, 2003).

Prinsip kerja biofilter submerged bed adalah sebagai berikut. Air dari dasar biofilter (effluent) naik ke atas permukaan air biofilter melalui pipa yang di bagian bawahnya terdapat selang aerasi (mekanisme “air lift“). Naiknya air disebabkan gaya dorong dari udara yang dipompakan ke dasar biofilter melalui selang aerasi tersebut. Air keluar dari lubang-lubang di bagian atas pipa dan masuk kembali ke dalam biofilter. Setelah melewati substrat, air masuk kembali ke dalam ‘air lift‘. Skema biofilter submerged bed terlihat pada Gambar 2.


Gambar 2 Diagram skematik bak biofilter submerged bed untuk proses nitrifikasi (Wheaton, 1998).

 

    Reaktor trickling filter terdiri dari bidang substrat yang menggantung di udara (tidak tenggelam) dan dasar terbuka. Fasa air mengucur dari bagian atas melewati bidang substrat. Selanjutnya fasa gas (konveksi alami) mengalir melalui permukaan biofilm. Oksigen terdifusi dari atmosfer (Cookson Jr., 1995). Medium biofilter yang dapat digunakan sangat bervariasi seperti batu kerikil, batu kapur, plastik, dan “gravel” dengan bermacam-macam berat dan ukuran.


Gambar 3 Diagram skematik bak biofilter trickling filter satu tingkat (Metcalf dan Eddy, 1991)

Proses nitrifikasi terhadap sisa pakan dan feses dalam biofilter yang menghasilkan NH 4+, NO 2dan NO3 serta melibatkan bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter dapat dilihat pada Gambar 4.


Gambar 4 Proses Nitrifikasi (modifikasi dari Baclaski, 2002)

 

METODE PELAKSANAAN

 

 

2. 1 Lokasi dan Waktu Penelitian

 

Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga September 2006 di bio pond Laboratorium Analisis Ekosistem Akuatik, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung.

 

2. 2 Organisme Uji

 

Benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) berumur 4 bulan dengan rata-rata berat awal 9 +0,23 g dan rata-rata panjang awal 7 +0,14 cm diperoleh dari daerah Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Organisme uji selanjutnya diaklimatisasi, dikultur dalam tahap pendederan dengan sistem resirkulasi dan sistem kultur statis (batch) di bio pond Laboratorium Analisis Ekosistem Akuatik, SITH, ITB.

Bakteri nitrifikasi yang dipergunakan berasal dari Laboratorium Analisis Ekosistem Akuatik yang proses kulturnya dilakukan bekerjasama dengan Laboratorium Mikrobiologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung.

 

2. 3 Persiapan Penelitian

 

Seminggu sebelum digunakan, air terlebih dahulu ditampung dan diberi aerasi terus menerus untuk menambah kandungan oksigen terlarut, menghilangkan klorin dan gas-gas beracun lainnya dari dalam air. Dalam tahap persiapan ini, selain penyiapan alat dan bahan penelitian, juga dilakukan pembuatan reagen untuk pengukuran amonium, nitrit dan nitrat.

Sistem resirkulasi dengan biofilter tipe trickling filter juga disiapkan dengan menyediakan tiga bak pemeliharaan yang masing-masing memiliki satu rangkaian biofilter dan satu pompa air. Biofilter diisi dengan substrat CaCO3 kemudian digantung dan dialiri oleh air dari bagian atas yang menyebar ke seluruh permukaan substrat merata.

Sistem kultur statis (batch) dalam penelitian ini digunakan sebagai kontrol. Bak pemeliharaan disiapkan sebanyak tiga buah, dengan ukuran yang sama dengan bak pemeliharaan pada sistem resirkulasi yaitu 50 x 35 x 25 cm3 dan terbuat dari bahan plastik. Pada sistem ini, tidak terdapat pergantian air pada bak pemeliharaan.

Substrat yang dipakai sebagai perlekatan bagi bakteri nitrifikasi dalam penelitian ini adalah CaCO 3 dengan ukuran berkisar antara 5 – 18 mm. Setelah dilakukan penghitungan kepadatan bakteri nitrifikasi sejumlah 105 cfu/ml, kemudian bakteri ini diinokulasikan sebanyak 10% v/v ke dalam biofilter tipe submerged bed dan tipe trickling filter.

 

2. 4 Pelaksanaan Penelitian

 

Penelitian dilakukan dengan membandingkan dua jenis sistem kultur, yaitu sistem kultur statis (batch) dan sistem kultur resirkulasi. Sistem resirkulasi terdiri dari 2 tipe biofilter yaitu tipe 1, submerged bed dan tipe 2, trickling filter. Pada ketiga perlakuan, padat tebarnya adalah sebanyak 15 ekor setiap bak pemeliharaan. Kondisi suhu dijaga pada kisaran suhu 270 + 10C dengan menggunakan submerged bed water heater. Ukuran bak pemeliharaan adalah 50 x 35 x 25 cm3 dengan volume air 40 liter. Masing-masing bak dilengkapi aerasi untuk suplai oksigen terlarut dan homogenasi kultur. Lama penelitian ini adalah 30 hari, dengan dua kali ulangan. Pakan yang diberikan adalah pelet apung komersial sebanyak 3% dari berat tubuh, dua kali dalam satu hari.

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pada penelitian ini, hasil yang dicari adalah kinerja kultur yang optimal dengan membandingkan antara sistem resirkulasi dengan dua tipe biofilter dan sistem statis (batch) yang meliputi pertumbuhan dan kesintasan benih yang tinggi serta kualitas air yang mendukung kehidupan benih gurami. Pertumbuhan dan kesintasan yang tinggi akan meningkatkan produktivitas biomassa kultur, sedangkan kualitas air adalah pendukung utama proses untuk menciptakan kinerja kultur yang optimal.

Secara umum, penggunaan sistem resirkulasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kesintasan benih ikan gurami. Sistem resirkulasi menunjukkan kestabilan kualitas air terutama kadar amonium (NH 4+), nitrit (NO2) dan pH. Substrat CaCO3 yang digunakan pada sistem resirkulasi membuat pH air kultur cenderung lebih stabil dibandingkan pada sistem kultur statis (batch/kontrol). Selain itu dari segi analisis usaha, penggunaan sistem resirkulasi pada usaha pendederan benih ikan gurami yang diterapkan pada skala kecil mampu memberikan keuntungan dan kelayakan usaha dibandingkan dengan sistem kultur statis. Analisis SWOT dilakukan pada pengembangan sistem resirkulasi secara berkelanjutan agar menghasilkan strategi yang akan dipilih.

Pertumbuhan berat badan benih gurami pada sistem resirkulasi memiliki kelebihan daripada sistem kultur statis. Sistem resirkulasi memiliki kestabilan kualitas air yang berpengaruh pada pertumbuhan benih gurami seperti kadar NH4+, NO2, NO3, oksigen terlarut, pH dan suhu (Forteath et al., 1993). Hal ini sejalan dengan pernyataan Brown (1962), bahwa pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas pakan, faktor kualitas air serta ruang gerak.

Laju pertumbuhan individu selama periode kultur cenderung meningkat walaupun dengan kenaikan yang berbeda dari setiap sistem. Peningkatan ini berkaitan dengan makin meningkatnya berat rata-rata benih gurami dan kualitas air. Semakin tinggi berat rata-rata benih gurami, maka semakin tinggi pula laju pertumbuhannya.

 

SIMPULAN

 

Penggunaan sistem resirkulasi dengan dua tipe biofilter berbeda (submerged bed dan trickling filter) dapat mempertahankan kestabilan kualitas air dibandingkan dengan sistem kultur statis (batch/kontrol).

Penerapan sistem resirkulasi secara berkelanjutan memerlukan langkah-langkah strategi pengembangan dengan cara peningkatan kualitas sistem resirkulasi melalui teknologi biofiltrasi, pengembangan kultur bakteri nitrifikasi, membangun jaringan pemasaran, pemasaran produk bakteri nitrifikasi dengan harga yang ekonomis pengembangan kelembagaan.

 

 

REFERENSI

 

Akbar, R. A., (2003), “Efisiensi Nitrifikasi dalam Sistem Biofilter Submerged Bed, Trickling Filter dan Fluidized Bed“, Skripsi Sarjana Biologi, Institut Teknologi Bandung.

Baclaski, B., (2002), Biofilter Conditioning by Addition of Ammonium Hydroxyde, Harbor Branch Oceanographic Institution, IRCC, FAS 2360 Water Quality & System Operation, http://www.hatcherybiotech.com/biofilter.html

About ririssinaga

aku anak pertama dari 3 bersaudara perempuan sendiri loh...^_^ aku dari keluarga yg sederhana .. aku sedang mendalami jurusan bidang budidaya perikanan... aku seseorang yang rame, ceriwizzz, bawel, friendly...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s