Mata Kuliah: Manajemen Kualitas Air

Dosen    : Ir. Dardiani

PENGARUH PENURUNAN KUALITAS AIR (SALINITAS) TERHADAP IKAN

Laporan Praktikum

Oleh

KELOMPOK IV

  1. Riris Yuli Valentine
  2. Ririn Rohmah
  3. Bonifasius E. Udiata
  4. Corneles Atdjas
  5. Eka Wahyudi
  6. Ismit Hi. Marwan Din


UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI PERIKANAN

JOINT PROGRAM PPPPTK-SEAMOLEC

2011

  1. Judul praktikum

    Pengaruh penurunan kualitas air (salinitas) terhadap ikan mas dan ikan nila.

  2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan praktikum dilakukan pada hari Selasa dan dilakukan di Laboratorium dan Hatchery Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.

  1. Tujuan praktikum

Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui bagaimana pengaruh salinitas terhadap ikan yang diuji. Mahasiswa dapat mengerti bagaimana pola tingkah laku ikan yang tahan terhadap kisaran salinitas yang tinggi dan yang rendah.

  1. Dasar teori

Air merupakan media bagi usaha budidaya ikan, maka pengelolaan air yang baik merupakan langkah awal dalam pencapaian keberhasilan budidaya ikan. Secara umum pengelolaan kualitas air dibagi kedalam tiga bagian, yaitu secara biologi, kimia dan fisika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai pengelolaan air secara kimia, khususnya salinitas (kandungan garam) suatu perairan.

Dalam Oceanografi, salinitas diartikan sebagai ukuran yang menggambarkan tingkat keasinan (kandungan Na Cl ) dari suatu perairan. Satuan salinitas umumnya dalam bentuk promil (0/00) atau satu bagian perseribu bagian, misalnya 35 gram dalam 1 liter air (1000 ml) maka kandungan salinitasnya 35‰ atau dalam istilah lainnya disebut psu (practical salinity unit). Air tawar memiliki salinitas 0 ‰, sedangkan air payau memiliki salinitas antara 1‰ – 30‰, sedangkan air laut/asin memiliki salinitas diatas 30‰.

Ikan mas (Cyprinus carpio) berdasarkan ilmu taksonomi (hewan), ikan mas termasuk ke dalam golongan family Cyprinidae. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) diperaoran tawar yang tidak terlalu dalam dan airannya tidak terlalu deras, misalnya dipinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik pada ketinggian 150-600 m diatas permukaan laut (dpl) dan pada suhu 25-300 C. meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o. Ikan Nila bersifat euryhaline yakni mampu hidup dalamrentang salinitas yang lebar (0±35 ppt). Sehingga diversifikasi spesies dengan pengembangan budidaya ikan nila di tambak layak dilakukan.

Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram airlaut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh (Sharaf et al , 2004).

Osmoregulasi merupakan upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan lingkungannya melalui mekanisme pengaturan tekanan osmosis.Untuk organisme akuatik, proses tersebut digunakan sebagai langkah untukmenyeimbangkan tekanan osmosis antara substansi dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel yang permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, hingga batas toleransi yang dimilikinya.

  1. Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan selama melakukan kegiatan praktikum ini adalah akuarium 1 buah, aerator, timbangan analitik/digital, gayung, ember, pengaduk, lap kering/tissu, alat tulis, penghitung waktu/stopwatch, ikan sampel yaitu 11 ekor ikan mas dan 4 ekor ikan nila, garam dapur, refraktometer.

  1. Langkah kerja
    1. Membersihkan satu buah akuarium dengan cara mencucinya hingga bersih dengan menggunakan spons dan sabun. Kemudian mengeringkan akuarium terlebih dahulu.
    2. Mengisi akuarium dengan 10 liter air
    3. Menimbang garam untuk membuat media dengan salinitas 10 ppt. garam yang digunakan yaitu 100 gram garam padat yang nantinya mencampurkan garam pada air dalam akuarium 10 liter.
    4. Memasukkan garam ke dalam akuarium dan mengaduknya hingga homogen
    5. Melihat kadar salinitas air apakah sesuai dengan yang telah ditentukan dengan menggunakan alat refraktometer.
    6. Menyiapkan ikan sampel kemudian menimbang bobot total pada dua jenis ikan dengan menggunakan timbangan digital
    7. Memasukkan dua jenis ikan sampel yaitu 11 ekor ikan mas dan 4 ekor ikan nila ke dalam akuarium
    8. Mengamati tingkah laku ikan setiap pengamatan 10 menit dan mencatat jumlah ikan apabila ada yang mati selama percobaan
    9. Setelah selesai percobaan selama pengamatan 100 menit kemudian menimbang kembali bobot akhir dari ikan yang digunakan.

  1. Hasil dan Pembahasan

    Hasil

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh hasil seperti yang tersaji pada tabel berikut,

Tabel 1. Perubahan bobot ikan sampel

Salinitas 10 ppt

Bobot awal

Bobot akhir

Perubahan bobot

Ikan mas 11 ekor

101.87

95.35

6.52

Ikan nila 4 ekor

30.01

28.08

1.93

Tabel 2. Tingkah laku ikan sampel pada salinitas 10 ppt

Waktu (menit)

Tingkah laku ikan

10

Aktif bergerak, gerakan lincah

20

Aktif bergerak, gerakan lincah

30

Masih aktif bergerak, gerakan lincah, akan tetapi ada sebagian ikan yang mulai bergerak ke arah aerasi.

40

Ikan mulai bergerak lambat, overculum mulai bergerak cepat.

50

Gerakan kembali lincah lagi, ada beberapa ikan yang melompat-lompat, dan menggesekan badannya pada kaca.

60

Gerakan masih aktif dan overculum bergerak cepat.

70

Ikan mulai berkumpul di sumber oksigen atau aerasi

80

Ikan mulai megap pada sebagian ikan dan ada pula yang terdiam dan menggesekan badannya pada kaca akuarium

90

Ikan mulai megap pada sebagian ikan dan ada pula yang terdiam dan menggesekan badannya pada kaca akuarium

100

Overculum bergerak cepat, dan ada beberapa ikan yang melompat-lompat di air, berkumpul di aerasi.

Tabel 3. Jumlah ikan yang hidup

Waktu

(menit)

Jumlah ikan yang hidup

Ikan mas

Ikan nila

10

11 ekor

4 ekor

20

11ekor

4 ekor

30

11 ekor

4 ekor

40

11 ekor

4 ekor

50

11ekor

4 ekor

60

11 ekor

4 ekor

70

11 ekor

4 ekor

80

11ekor

4 ekor

90

11 ekor

4 ekor

100

11 ekor

4 ekor

Pembahasan

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung
tentang pengaruh salinitas terhadap ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Wadah yang digunakan yaitu akuarium satu buah yang diisi dengan air tawar sebanyak 10 liter, dengan menambahkan garam sebanyak 100 gram untuk mendapatkan salinitas 10 ppt kemudian memasukkan ikan mas sebanyak 11 ekor dan ikan nila 4 ekor. Pengamatan dilakukan setiap 10 menit sekali, tingkah laku dapat dilihat pada Tabel. 2 pada hasil percobaan. Setiap 10 menit sekali ikan mas dan ikan nila mengalami perubahan tingkah laku. Pada sampel ikan mas yang digunakan untuk praktikum masih dapat mentoleransi pada kandungan salinitas yang tinggi. Sehingga ikan mas masih bisa hidup pada kadar salinitas 30-35 ppt. Hal ini dikarenakan ikan mas termasuk ke dalam golongan ikan yang mempunyai toleransi yang lebar terhadapa salinitas. Begitu juga dengan ikan nila, karena memang ikan nila telah dikenal memiliki kisaran toleransi yang lebar terhadap kadar garam atau salinitas.

Salinitas yang digunakan pada saat praktikum adalah 10 ppt. Tingkah laku ikan mas dan ikan nila selama pengamatan dari menit pertama masih aktif bergerak sampai tidak bergerak (diam). Tingkah laku ikan mas yang sering berada pada sumber aerasi karena pada salinitas yang tinggi kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan rendah. Berbeda dengan ikan nila yang masih saja aktif bergerak dapat bertahan dengan salinitas 10 ppt. Ikan yang digunakan pada masa percobaan juga semua masih hidup total survival rate nya 100% sampai akhir percobaan selama 100 menit.

Kandungan kadar garam dalam suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism akuatik mempunnyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal.

Dalam pengaturan tekanan osmotik pada setiap ikan, termasuk ikan mas melibatkan peran beberapa organ. Hal ini sesuai dengan pendapat Affandi (2001) bahwa organ osmoregulasi pada ikan meliputi ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan. Pada pengamatan tingkah laku ikan mas, cenderung terlihat pasif bergerak. Berdasarkan pendapat Affandi (2001) bahwa insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral, pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadap ion-ion dapat menyebabkan insang pasif bergerak. Untuk organ dalam yang berhubungan dengan organ osmoregulasi tidak dapat diketahui secara pasti pengaruhnya terhadap kadar salinitas karena hanya dilakukan pengamtan tingkah laku ikan saja. Pengaruh organ-organ tersebut hanya dapat diketahui berdasarkan literatur yang ada.

Selama perlakuan pertama berlangsung, penggunaan aerasi pada saat pengamatan, sangat dibutuhkan untuk menyuplai kandungan oksigen pada saat salinitas tinggi, khususnya bagi ikan mas. Karena pada salinitas tinggi telah diketahui bahwa kandungan oksigen rendah, maka ikan mas sering berkumpul didaerah aerasi. Bukaan mulut yang cepat, gerakan tapis insang yang cepat pada perlakuan yang menggunakan kadar salinitas 10 ppt dilakukan oleh ikan mas karena untuk mendapatkan oksigen. Pada salinitas yang tinggi, ikan dalam adaptasinya akan kehilangan air melalui difusi keluar badannya. Walaupun demikian, salinitas air sebaiknya tidak mengalami fluktuasi (naik-turun) yang besar. Dalam budidaya ikan, nilai salinitas harus stabil, tidak mengalami perubahan ekstrem (drastis) mencapai angka 5.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diperoleh selama kegiatan praktikum berlangsung maka dapat disimpulkan bahwa pada kisaran salinitas 10 ppt ikan mas dan ikan nila masih dapat bertahan hidup dengan tingkah laku gerakan yang masih aktif, selain itu juga jumlah ikan yang digunakan seluruhnya masih hidup total survival rate 100 %.

  1. Daftar Pustaka

Affandi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Unri, Press : Riau

Gufhran dkk. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta : Jakarta

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMA. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

http://zonaikan.wordpress.com/2010/06/26/faktor-yang-mempengaruhi-suhu-air/s

About ririssinaga

aku anak pertama dari 3 bersaudara perempuan sendiri loh...^_^ aku dari keluarga yg sederhana .. aku sedang mendalami jurusan bidang budidaya perikanan... aku seseorang yang rame, ceriwizzz, bawel, friendly...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s